Bencana Lidah

Bencana lidah amat banyak ragamnya, dan banyak pemicunya, terutama berasal dari tabiat. Tidak ada cara yang bisa menyelamatkan dari bencana ini kecuali dengan diam. Terlebih dahulu akan kita kupas tentang keutamaan diam, lalu disusul dengan berbagai bencana lidah secara terperinci. Diam bisa menghimpun hasrat dan mengkonsentrasikan pikiran. dalam sebuah hadits, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Siapa yang menjamin bagiku apa yang ada di antara dua tulang dagunya (lidah) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluannya), maka aku menjamin baginya surga.” (Diriwayatkan Bukhari, At-Tirmidzi dan Ahmad).

Dalam hadits lain beliau bersabda,

“Iman seorang hamba tidak istiqamah sebelum hatinya istiqamah. Hatinya tidak istiqamah sebelum lidahnya istiqamah.” (Diriwayatkan Ahmad).

Pada bagian akhir dalam hadits Mu’adz, beliau bersabda, “Jagalah ini atas dirimu.”

Aku (Mu’adz) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami juga akan dihukum karena apa yang kami katakan?” Beliau menjawab, “Ibumu telah susah payah melahirkanmu wahai Mu’adz. “Bukankah manusia wajahnya ditelungkupkan di atas api neraka, melainkan akibat dari lidahnya.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Baghawi dan Ahmad).

Dalam hadits lain beliau bersabda,

“Siapa yang menjaga lidahnya, maka Allah menutupi aibnya.” (Diriwayatkan Abu Nu’man dan Ibnu Abid-Dunya).

Ibnu Mas’ud berkata, “Tidak ada sesuatu yang membuat seseorang lebih lama mendekap di dalam penjara selain dari lidahnya.” Abu Darda berkata, “Aktifkanlah dua telingamu daripada mulutmu. Karena engkau diberi dua telinga dan satu mulut, agar engkau lebih banyak mendengar daripada berbicara.”

Adapun Bencana-bencana Perkataan adalah :

A. Bencana Pertama: Perkataan yang tidak dibutuhkan.

Ketahuilah bahwa siapa yang mengetahui waktunya, yang merupakan modal pokoknya, tidak akan membelanjakannya kecuali untuk hal-hal yang berfaedah. Pengetahuan seperti ini mengharuskannya untuk menahan lidahnya dari perkataan yang tidak dibutuhkan. Sebab siapa yang meninggalkan dzikir kepada Allah dan sibuk dengan hal-hal yang sebenarnya tidak diperlukan, maka dia seperti orang yang mampu mengambil mutiara, tetapi dia justru mengambil sekepal tanah sebagai gantinya. Tentu ini merupakan kerugian besar bagi hidupnya. Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Di antara kebaikan Islam seseorang ialah meninggalkan apa yang tidak diperlukannya.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi dan Al-Baghawi).

Lukman Al-Hakim pernah ditanya seseorang, “Apa yang membuatnya bisa mendapat hikmah itu?” Dia menjawab, “Aku tidak menanyakan sesuatu yang kuanggap cukup dan aku tidak mengatakan sesuatu yang tidak perlu.” Diriwayatkan bahwa suatu hari dia mendatangi tempat tinggal Daud ‘Alaihissalam yang sedang menyelesaikan pembuatan baju besi. Lukman merasa takjub terhadap apa yang dilihatnya, lalu dia ingin menanyakan hal itu. Namun hikmahnya melarangnya bertanya. Setelah Daud selesai mengerjakan pekerjaannya, beliau bangkit dan mengenakan baju besi itu, sambil berkata, “sebaik-baiknya baju besi ialah untuk perang.” Maka Lukman berkata, “Diam itu hikmah, namun sedikit orang yang melakukannya.”

B. Bencana Kedua :   Melibatkan diri dalam kebatilan, yaitu ikut pembicaraan tentang kedurhakaan.

Seperti ikut serta dalam kumpul-kumpul untuk minum khamr dan tempat berhimpunnya orang-orang fasik. Macam-macam kebatilan ini banyak. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Sesungguhnya seorang hamba itu benar-benar mengucapkan suatu perkataan yang menjerumuskan ke dalam neraka, yang jaraknya lebih dari jarak antara timur dan barat.” (Diriwayatkan Bukhari, Muslim dan Ahmad).

Yang mirip dengan itu adalah perdebatan dan adu mulut, banyak menyerang orang lain untuk membuka kesalahan dan keburukan-keburukannya. Yang mendorong seseorang berbuat seperti ini adalah merasa dirinya hebat.

Memang seseorang harus mengingkari kemungkaran dengan perkataannya dan menjelaskan mana yang benar. Dia melakukan hal itu jika orang yang dihadapi mau menerimanya. Jika tidak, dia tidak perlu meradang. Ini jika urusannya berkaitan dengan agama. Jika masalahnya berkaitan dengan keduniaan, maka dia tidak perlu mendebatnya.

Cara mengobati penyakit ini ialah dengan menundukkan kesombongan yang membuatnya dirinya merasa lebih utama. Yang lebih besar daripada perdebatan ialah pertengkaran. Dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Orang yang paling dibenci Allah ialah orang yang keras lagi suka bertengkar.” (Diriwayatkan Bukhari dan Muslim).

Maksud bertengkar di sini ialah bertengkar secara batil atau tanpa dilandasi pengetahuan. Sedangkan orang yang mempunyai hak untuk bertengkar, sebaiknya dia berusaha untuk menghindari pertengkaran. Sebab pertengkaran itu bisa membuat dada terasa panas, amarah mendidih, menimbulkan kedengkian dan bisa melanggar kehormatan.

C. Bencana Ketiga : Banyak bicara dan memaksakan diri dengan kata-kata bersajak

Dari Abu Tsa’labah, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Sesungguhnya orang yang paling kubenci dan yang paling jauh jaraknya di antara kalian dengan aku pada Hari Kiamat ialah orang yang akhlaknya buruk di antara kalian, banyak bicara dan banyak berkata-kata.”

Memaksakan perkataan dengan kalimat bersajak dan dibuat-buat, tidak terhitung dalam perkataan juru pidato, pemberian peringatan terkadang memakai kata-kata yang boros dan aneh. Padahal yang dimaksudkan dari peringatan adalah usaha menggugah hati dan bagaimana agar kata-kata itu bisa masuk ke dalam hati seseorang.

D. Bencana Keempat : Bicara keji, suka mencela dan mengumpat

Semua ini tercela dan dilarang karena merupakan sumber keburukan dan kehinaan. Dalam hadits disebutkan,

“Jauhilah perkataan keji, karena Allah tidak menyukai perkataan keji dan mengata-ngatai dengan perkataan keji.” (Diriwayatkan Ibnu Hibban, Ahmad dan Bukhari dalam Adabul Mufrad).

Dalam hadits lain disebutkan,

“Orang mukmin itu bukan orang yang suka mencemarkan kehormatan, bukan pula orang yang suka mengutuk, berkata keji dan mengumpat.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi,Ahmad,Ibnu Hibban,Al-Hakim,Bukhari dalam Adabul Mufrad).

Ketahuilah bahwa berkata keji dan mengumpat itu merupakan pengungkapan tentang sesuatu yang dianggap buruk, dengan kata-kata yang langsung dan jelas. Biasanya yang digunakan adalah kata-kata yang berkaitan dengan jima’. Orang yang baik-baik tentu akan menghindari penggunaan kata-kata yang buruk seperti itu.

E, Bencana Kelima : Bercanda

Adapun bercanda yang ringan-ringan diperbolehkan dan tidak dilarang selagi benar dan jujur. Ssesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga suka bercanda dan tidak mengatakan kecuali yang benar. Beliau pernah bersabda kepada seorang laki-laki, “Wahai orang yang berkuping dua.” Beliau juga pernah bersabda kepada lelaki lain, “Aku akan membawamu di atas punggung anak onta.”

Beliau pernah bersabda kepada seorang wanita tua yang meminta beliau agar mendoakannya masuk surga, “Sesungguhnya tidak ada yang masuk surga dalam keadaan tua renta.” Maksud beliau adalah bercanda dengan maksud yang kemudian beliau bacaan sebuah ayat,

“Dan, Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (Al-Waqi’ah: 36-37).

Dalam canda Rasulullah ini telah disepakati tiga hal :

  1. Tidak berbicara kecuali yang benar.
  2. Sering dilakukan terhadap wanita dan anak-anak serta orang laki-laki lemah yang membutuhkan bimbingan.
  3. Dilakukan jarang-jarang. Jadi tidak boleh terus-menerus bercanda. Tentu saja ada perbedaan antara canda yang jarang-jarang dengan yang terus-menerus. Jika ada seseorang yang siang dan malam selalu bercanda, lalu dia berhujjah dengan apa yang dilakukan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang berdiri bersama Aiysha dan membiarkannya membiarkannya menonton permainan orang-orang Habasyah, berarti dia telah melakukan kesalahan, karena Rasulullah melakukan yang demikian itu sesekali saja. Terus menerus bercanda adalah dilarang. Sebab canda bisa mengurangi karisma seseorang dan bahkan bisa memancing kedengkian.
F. Bencana Keenam : Mengejek dan mengolok-olok
Maksud mengejek di sini ialah menghina dan mengolok-olok, menyebut aib dan kekurangan seseorang agar ditertawai. Hal ini bisa dilakukan dengan menuturkannya lewat kata-kata atau menggambarkannya lewat perbuatan atau cukup dengan isyarat dan kerdipan mata. Semua ini dilarang dalam syari’at, dan larangan ini telah jelas disebutkan di dalam Al-Quran dan As-Sunnah.
G. Bencana Ketujuh: Membocorkan rahasia, melanggar janji, berdusta dalam perkataan dan sumpah
Semua ini dilarang, kecuali yang memang ada keringanan untuk berdusta, seperti dusta di hadapan istri untuk menyenangkannya dan untuk siasat perang.
Jelasnya, setiap tujuan yang terpuji, yang tidak bisa dicapai kecuali dengan cara berdusta, maka dusta ini diperbolehkan kalau memang tujuan itu mubah, dan jika tujuan itu wajib, cara itu pun juga wajib. Namun begitu, sedapat mungkin dusta ini harus dihindari.
H. Bencana Kedelapan : Ghibah (menggunjing)
Al-Quran telah menyebutkan larangan ghibah ini dan menyerupakan pelakunya dengan pemakan bangkai. Dalam hadits disebutkan,
“Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian adalah haram atas diri kalian.” (Diriwayatkan Bukhari dan Muslim).
Dari Abu Barzah Al-Aslami, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,
“Wahai sekalian orang yang beriman dengan lidahnya sedangkan iman itu belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian menggunjing orang-orang muslim dan janganlah mencari-cari aib mereka karena siapa yang mencari aib saudaranya, niscaya Allah akan mencari-cari aib dirinya, niscaya Dia akan membuka kejelekannya sekalipun dia bersembunyi di dalam rumahnya.” (Diriwayatkan abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, Ahmad dan Al-Baghawi).
Dalam hadits lain disebutkan,
“Jauhilah ghibah, karena ghibah itu lebih keras dari zina. Sesungguhnya seseorang telah berzina dan minum (khamr), kemudian bertaubat dan Allah pun mengampuni dosanya. Sedangkan orang yang melakukan ghibah tidak akan diampuni Allah, hingga orang yang dighibahkan mengampuninya.”
Ali bin Al-Husain Radhiyallahu Anhu berkata, “Jauhilah ghibah, karena ghibah itu merupakan santapan manusia anjing.”

Makna ghibah di sini ialah, engkau memnyebut-nyebut orang lain yang tidak ada di sisimu dengan suatu perkataan yang membuatnya tidak suka jika ia mendengarnya, baik menyangkut kekurangan pada badannya, seperti penglihatannya yang kabur, buta sebelah matanya, kepalanya botak, badannya yang tinggi, badannya yang pendek dan lain-lainnya, atau yang menyangkut nasabnya, seperti perkataanmu, “Ayahnya berasal dari rakyat jelata, ayahnya orang India, orang fasik”, dan lainnya, atau yang menyangkut akhlaknya, seperti perkataanmu, “Dia akhlaknya buruk dan orangnya sombong”, atau menyangkut pakaiannya, seperti perkataanmu, “Pakaiannya longgar, lengan bajunya lebar”, dan lain-lain.

Dalil yang menguatkan hal ini, yaitu saat Rasulullah ditanya tentang ghibah, maka beliau menjawab,

“Engkau menyebut-nyebut saudaramu dengan sesuatu yang tidak dia sukai,”

Orang itu bertanya lagi, “Bagaimana pendapat engkau jika pada diri saudaraku itu memang ada yang seperti kataku wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Jika pada diri saudaramu itu ada yang seperti katamu, berarti engkau telah mengghibahnya, dan jika pada dirinya tidak ada yang seperti katamu, berarti engkau telah mendustainya.” (Diriwayatkan Muslim dan At-Tirmidzi).

Apapun yang dimaksudkan untuk mencela, maka itu termasuk dalam ghibah, entah dengan perkataan atau lainnya, seperti kerdipan mata, isyarat atau pun tulisan.

Jenis ghibah yang paling buruk adalah ghibahnya orang-orang zuhud yang hendak membanggakan diri, seperti ucapan mereka di hadapan orang-orang lain, “Segala puji bagi Allah yang tidak menguji kami dengan masuk ke rumah para penguasa dan tidak membelanjakan uang untuk membeli remukan roti.” Atau mereka berkata, “Kami berlindung kepada Allah dari orang yang memiliki sedikit rasa malu.”

Kami memohon afiat kepada Allah, karena mereka menghimpun antara celaan terhadap orang lain dan pujian terhadap diri sendiri.

Atau bisa saja di antara mereka berkata, “Kasihan benar orang itu, yang telah diuji dengan bencana yang besar. Semoga Allah mengampuni dosa kita dan dosanya.” Dia pura-pura memanjatkan dosa, tapi menyembunyikan maksud buruk dalam hatinya.

Ketahuilah bahwa orang yang mendengarkan ghibah juga terlibat dalam perkara ghibah ini, dan dia tidak lepas dari dosa seperti orang yang mengghibah, kecuali jika dia mengingkarinya dengan lidahnya, atau minimal dengan hatinya. Jika memungkinkan memotong ghibah itu dengan mengalihkannya ke pembicaraan lain, maka hendaklah dia melakukannya.

Diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda,

“Barangsiapa ada orang mukmin yang dihinakan di sisinya dan dia sanggup membelanya namun tidak melakukannya, maka Allah Ta’ala menghinakannya di hadapan banyak orang.” (Diriwayatkan Ahmad).

“Barangsiapa membela seorang muslim dari orang munafik yang menggunjingnya, maka Allah mengutus seorang malaikat yang menjaga dagingnya dari sengatan neraka Jahannam pada Hari Kiamat.” (Diriwayatkan Abu Dawud, Ahmad, Al-Baghawi dan Ibnul Mubarrak).

Suatu kali Uar bin Utbah melihat pembantunya sedang bercengkerama bersama orang lain yang menggunjing seseorang. Maka dia berkata,

“Celakalah kamu, jaga telingamu dan jangan dengarkan perkataan yang kotor, dan jaga juga dirimu untuk tidak berkata yang kotor, karena orang yang mendengar merupakan sekutu orang yang berbicara. Dia melihat sesuatu yang kurang berkenan di dalam bejananya, lalu dia pun menuangkan ke dalam bejanamu.”

Sebab-sebab yang Mendorong Ghibah dan Cara Mengobatinya

Sebab-sebab yang mendorong seseorang melakukan ghibah banyak sekali, di antaranya adalah:

  1. Hendak mencairkan amarah. Karena ada seseorang yang berbuat sesuatu terhadap dirinya yang membuatnya marah, maka ia mencairkan amarahnya, dia pun menggunjing orang tersebut.
  2. Menyesuaikan diri dengan teman-teman, menjaga keharmonisan dan karena ingin membantu mereka. Jika mereka mengusik kehormatan seseorang, lalu dia mengingkari perbuatan mereka atau memotong perkataan mereka, tentu mereka tidak mau menerimanya dan akan menghindarinya. karena itu dia perlu ikut-ikutan dalam perbuatan mereka dan membantu mereka, demi menjaga hubungan baik dengan mereka.
  3. Ingin mengangkat diri sendiri dengan cara menjelek-jelekkan orang lain. Dia berkata, “Fulan itu bodoh, pemahamannya dangkal,” atau lainnya, yang dimaksudkan untuk menguatkan posisi dan kelebihan dirinya serta memperlihatkan dirinya seakan-akan lebih pintar dari orang yang dimaksud. Begitu pula tindakannya yang dipicu rasa dengki, dengan memuji seseorang dan menjatuhkan saingannya.
  4. Untuk canda dan lelucon. Dia menyebutkan seseorang dengan maksud untuk membuat orang-orangtertawa. Bahkan banyak orang yang mencari penghidupan dengan cara ini.

Adapun cara mengobati penyakit ghibah ini ialah dengan menyadarkan orang yang mengghibah, bahwa perbuatannya itu memancing kemurkaan Allah, kebaikan-kebaikannya akan berpindah kepada orang yang dighibah, dan jika dia tidak mempunyai kebaikan, maka keburukan orang yang dighibah akan dipindahkan kepada dirinya. Siapa yang menyadari hal ini tentu lidahnya tidak akan berani mengucapkan ghibah.

Jika terlintas pikiran untuk mengghibah, maka hendaklah dia berintropeksi dengan melihat aib diri sendiri lalu berusaha untuk memperbaikinya. Mestinya dia merasa malu jika dia mengungkap aib orang lain, sementara dirinya sendiri penuh aib.

Jika dia tidak mempunyai aib, yang lebih baik baginya ialah mensyukuri nikmat Allah yang dilimpahkan kepadanya. Dia tidak perlu mengotori diri sendiri dengan aib yang sangat buruk, yaitu ghibah! Jika dia tidak ridha dighibah orang lain, mestinya dia juga tidak ridha jika mengghibah orang lain.

Hendaklah seseorang melihat sebab yang mendorongnya melakukan ghibah, lalu hendaklah berusaha memotong sebab tersebut. Karena cara mengobati penyakit ialah dengan cara memotong penyebabnya.

Ghibah Karena Buruk Sangka

Adakalanya ghibah itu di awali dari apa yang terlintas di dalam hati, yang berarti ini merupakan bentuk buruk sangka terhadap orang-orang muslim.

Sangkaan termasuk sesuatu yang digemari jiwa dan menjadi kecenderungan hati. Tidak selayaknya engkau menyangka yang tidak-tidak terhadap sesama muslim, kecuali jika terungkap suatu bukti yang tidak memerlukan takwil lagi atau ada orang yang dipercaya menyampaikan kabar kepadamu dan hatimu yakin benar terhadap kejujurannya. Sebab jika engkau tidak mempercayai pengabarannya, berarti engkau juga berburuk sangka kepada orang yang mengabarkan kepadamu.

Jadi engkau tidak boleh sekenanya berbaik sangka kepada seseorang dan berburuk sangka kepada yang lain. Engkau harus mencari dan menyelidiki, apakah  di antara keduanya ada permusuhan dan kedengkian? Pada saat itulah engkau bisa membuat keputusan. Jika engkau merasa yakin berburuk sangka terhadap seorang muslim, engkau bisa mengawasinya dengan menyerunya kepada kebaikan, karena cara ini bisa mengenyahkan setan, sehingga setan tidak selalu mengusik hatimu dengan buruk sangka itu, yang bisa melalaikanmy untuk berdoa dan mawas diri. Jika seorang muslim sudah nyata melakukan kesalahan, maka nasihatilah dia secara diam-diam, tanpa diketahui orang lain.

Ketahuilah bahwa buah dari buruk sangka adalah mencari-cari kesalahan. Sebab hati tidak akan merasa puas hanya dengan berburuk sangka, tetapi ia akan mencari pembenarannya, sehingga dia sibuk mencari-cari kesalahan. Hal ini dilarang karena bisa menjurus kepada perbuatan membuka aib orang muslim. Jika engkau tidak mengetahui aib sesama muslim, maka hatimu lebih baik bagi muslim tersebut.

Beberapa Alasan yang Ditolerir dalam Ghibah dan Tebusan Ghibah

Beberapa hal yang ditolerir karena menyebut-nyebut keburukan orang lain adalah yang mempunyai tujuan yang benar menurut ukuran syariat, yang tujuan ini tidak bisa tercapai kecuali dengan cara ini. Dalam keadaan seperti ini, dosa ghibah dianggap tidak ada, di antaranya adalah:

  1. Karena ada tindak kezhaliman. Orang yang dizhalimi boleh menyebutkan keburukan orang yang berbuat zhalim terhadap dirinya di hadapan orang lain yang bisa mengembalikan haknya.
  2. Sebagai sarana untuk merubah kemungkaran dan mengembalikan orang zhalim kepada perdamaian.
  3. Meminta fatwa. Seperti ucapan seseorang kepada seorang mufti, “Fulan menzhalimi aku, dia mengambil hakku. Lalu bagaimana jalan keluar yang bisa dilakukan?” Dia boleh menyebut nama seseorang dan tindakannya secara langsung. Tetapi ada baiknya menyampaikan secara tidak langsung, seperti berkata, “Apa pendapat Tuan tentang seseorang yang menzhalimi ayahnya atau saudaranya?” Dalil tentang diperbolehkannya menyebut secara langsung adalah hadits Hindun tatkala berkata di hadapan Rasulullah, “Sesungguhnya Abu Sufyan adalah orang yang kikir.” Sementara beliau tidak mengingkari tindakan Hindun ini.
  4. Memperingatkan orang-orang muslim, seperti menyebutkan seseorang ahli fiwih yang suka menemui ahli bid’ah atau orang fasik, yang dikhawatirkan akan menimbulkan dampak negatif yang luas. Dalam keadaan seperti ini engkau boleh menyebutkan keadaannya. Begitu pula jika engkau mempunyai seorang budak yang suka mencuri atau berbuat fasik, maka engkau boleh menyebutkan sifatnya itu kepada pembeli saat engkau menjualnya. Begitu pula orang yang dimintai pendapat dalam perkawinan atau orang yang akan dititipi amanat, maka dia boleh menyebutkan keadaannya karena pertimbangan nasihat dan sebatas statusnya sebagai yang dimintai pendapat, bukan karena hendak melecehkan.
  5. Jika penuturannya bisa diketahui dengan julukan, seperti menyebut orang yang dimaksudkan dengan julukan si Pincang, si gagu atau lainnya. Dia boleh berkata seperti itu.
  6. Jika orang yang dighibah melakukan kefasikan secara terang-terangan dan dia tidak merasa terlecehkan jika dirinya disebut-sebut. Telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda,
“Siapa yang menyingkirkan selubung rasa malu, maka tidak ada salahnya mengghibahnya.” (Diriwayatkan Al-Baihaqi dan Al-Khathib).
Al-Hasan pernah ditanya, “Apakah menyebut diri seseorang yang melakukan kekejian secara terang-terangan disebut ghibah?”
Dia menjawab, “Tidak, karena dia tidak mempunyai kehormatan diri.”

Adapun tebusan ghibah disesuaikan dengan dua pelanggaran yang dilakukan orang yang melakukan ghibah, yaitu:

  1. Pelanggaran terhadap hak Allah, karena dia melakukan apa yang dilarang-Nya. Tebusannya ialah dengan bertaubat dan menyesali perbuatannya.
  2. Pelanggaran terhadap kehormatan makhluk. Jika ghibah sudah didengar orang yang dighibahnya, maka dia harus menemuinya, meminta maaf kepadanya dan memperlihatkan penyesalan di hadapan orang tersebut atas perbuatannya.

Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda,

“Siapa yang melakukan kezhaliman terhadap saudaranya, harta atau kehormatannya, maka hendaklah dia menemuinya dan meminta maaf kepadanya dari dosa ghibah itu, sebelum dia dihukum, sementara dia tidak mempunyai dirham maupun dinar. Jika dia memiliki berbagai kebaikan, maka kebaikan-kebaikannya itu akan diambil lalu diberikan kepada saudaranya itu. Jika tidak, maka sebagian keburukan-keburukan saudaranya itu diambil dan diberikan kepadanya.” (Diriwayatkan Al-Bukhari).

Jika ghibah belum didengar orang yang dighibah, permohonan maaf cukup dengan memohonkan ampunan bagi orang tersebut, agar dia tidak mendengar apa-apa yang belum diketahuinya, sehingga hatinya bisa menjadi lebih lapang.

Mujahid berkata, “Tebusan tindakanmu yang memakan daging saudaramu ialah dengan cara memuji dirinya dan mendoakan kebaikan baginya. Begitu pula jika orang tersebut sudah meninggal dunia.”

I. Bencana Kesembilan : Mengadu domba

Dalam sebuah hadits disebutkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Tidak masuk surga orang yang suka mengadu domba.” (Diriwayatkan Bukhari dan Muslim).

Adu domba ini biasanya berupa penukilan perkataan seeorang tentang orang lain, seperti, “Fulan berkata begini dan begitu tentang dirimu.” Tidak sebatas ini saja, tetapi dia mengungkap sesuatu yang seharusnya tidak boleh diungkap, baik berupa perkataan maupun perbuatan, sehingga kalau pun dia melihat orang tersebut mengumpulkan harta untuk kepentingan dirinya sendiri, maka dia akan mengatakannya. Ini disebut orang yang suka mengadu domba dan perkataannya itu disebut adu domba.

Siapa yang menghadapi orang seperti ini harus memperhatikan enam hal:

  1. Tidak perlu mempercayai orang yang menukil perkataan seseorang tentang orang lain. Sebab orang seperti ini adalah orang fasik dan kesaksiannya tidak bisa diterima.
  2. Harus melarang perbuatannya dan menasihatinya.
  3. Membencinya karena Allah, karena dia adalah orang yang dibenci di sisi Allah.
  4. Tidak menduga yang tidak-tidak terhadap saudaranya yang tidak ada di sisinya.
  5. Tidak mendorongnya untuk mencari-cari kesalahan orang yang diceritakan.
  6. Tidak meridhai bagi dirinya apa yang dilarangnya, sehingga dia juga tidak boleh menceritakan apa yang diceritakan kepadanya itu.
Diriwayatkan bahwa Sulaiman bin Abdul Malik pernah berkata kepada seseorang, “Kudengar engkau telah mengata-ngatai diriku, engkau telah berkata begini dan begitu tentang aku.”
“Aku tidak melakukannya,” jawab orang tersebut.
“Sesungguhnya apa yang diceritakan itu memang benar,” kata Sulaiman.
Orang itu menyahut, “Orang yang suka mengadu domba tidak ada yang benar.”
“Engkau benar. Pergilah dengan membawa keselamatan.” Kata Sulaiman.
Yahya bin Abu Katsir berkata, “Orang yang mengadu domba bisa membuat kerusakan dalam jangka waktu satu jam, sementara tukang sihir belum tentu membuat kerusakan dalam jangka waktu satu bulan.”
Dikisahkan ada seorang laki-laki yang menawar seorang budak. Tuannya yang lama berkata, “Aku ingin memasrahkan kepadamu dalam urusan adu domba dan dusta.”
Orang yang menawar itu berkata, “Kini engkau bisa terbebas dari dua urusan ini.”
Maka dia pun langsung membeli budak yang suka mengadu domba dan berkata bohong tersebut.
Suatu kali budak tersebut berkata kepada Tuannya, “Sesungguhnya istri Tuan telah menyeleweng, dan dia bermaksud hendak membunuh Tuan.”
Lain kali dia berkata kepada istri Tuannya, “Sesungguhnya suami Nyonya hendak menikah lagi dan mengambil gundik. Agar Nyonya bisa menghentikan ulahnya, hingga dia tidak bisa menikah lagi dan mengambil gundik, maka ambillah sebilah pisau, potonglah salah satu urat nadi di lehernya saat dia tidur.”
Lain kali budak itu berkata kepada Tuannya, “Sesungguhnya istri Tuan hendak membunuh Tuan selagi tidur.”

Maka sang Tuan tersebut pura-pura tidur. Istrinya mendekati dengan mengendap-ngendap sambil memegang pisau untuk melaksanakan aksinya. Setelah dekat, si suami memegang tangan istrinya lalu membunuhnya. Tentu saja keluarga sang istri tidak terima. Karena itu mereka menghampiri suami tersebut dan membunuhnya.

Betapa dasyat keburukan yang bisa ditimbulkan dari adu domba!

J. Bencana Kesepuluh : Perkataan dengan dua lidah di hadapan dua orang yang saling bertengkar

Seseorang menukil perkataan yang satu di hadapan yang lain, mengatakan sesuatu yang mendukung salah satu di antara keduanya, mendukung dan memujinya serta menjelek-jelekkan yang lain. Begitu pula yang dia lakukan saat berhadapan dengan orang yang satunya lagi.

Di dalam hadits disebutkan,

“Sesungguhnya orang yang paling jahat ialah orang yang memiliki dua wajah, yang datang kepada seseorang dengan satu wajah, dan kepada yang lain dengan wajah yang lain pula.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).

Hal ini berlaku bagi orang yang tidak dalam keadaan terpaksa. Sedangkan orang yang dalam keadaan terpaksa, karena ada ancaman dari penguasa misalnya, maka dia boleh melakukannya.

Abu Darda’ berkata, “Kami bisa menyeringai di hadapan sekumpulan orang, sekalipun sebenarnya hati kami mengutuk mereka. Tapi siapa yang bisa tidak memperlihatkan kesetujuannya, maka dia tidak boleh berbuat seperti itu.”

K. Bencana kesebelas : Kata-kata pujian

Hal ini pun tak lepas dari bencana, yaitu berkaitan dengan:

  1. Orang yang memuji. Bisa saja dia mengatakan yang sebenarnya tidak ada, tanpa mau mengecek kebenarannya terlebih dahulu, seperti perkataan, “Dia adalah orang yang wara dan zuhud.” Dia terlalu berlebih-lebihan dalam memuji, sehingga berakhir dengan kedustaan. Bahkan boleh jadi dia memuji orang yang sebenarnya sangat layak untuk dicela.
    1. Al-Hasan berkata, “Barangsiapa mendoakan orang zhalim agar panjang umurnya, berarti ia suka mendurhakai Allah.”
  2. Kaitannya dengan orang yang dipuji. Pujian ini bisa membuatnya takabur dan ujub, dua sifat yang merusak. Karena itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, tatkala mendengar seseorang memuji orang lain,

“Celaka engkau, karena engkau telah memenggal leher rekanmu.” (Diriwayatkan Bukhari dan Muslim).

Kami meriwayatkan dari Al-Hasan, dia berkata, “Suatu kali Umar bin Al-Khathab sedang duduk-duduk bersama beberapa orang, yang didekatnya ada air susu. Lalu ada seseorang yang berkata saat Al-Jarud datang ke tempat itu,

“Ini adalah tuannya Rabi’ah.”

Semua orang yang ada di tempar mendengarnya, begitu Al-Jarud. Setelah mendekat, Umar menimpukkan air susu kepada Al-Jarud.

“Apa masalahku dan masalamy wahai Amirul Mukminin?” Tanya Al-Jarud.

“Apa masalahku dan masalahmu? Apakah engkau tidak mendengar perkataan itu tadi?” tanya Umar.

“Aku mendengarnya,” jawab Al-jarud, lalu dia bertanya, “Lalu ada apa?”

“Aku khawatir kata-kata itu mempengaruhi hatimu, sehingga engkau suka jika aku mengangguk-angguk kepala kepadamu. Di samping itu, jika manusia itu dipuji dengan kebaikan, biasanya dia ridha terhadap dirinya, dan dia mengira telah sampai kepada apa yang diinginkannya, lalu dia lalai beramal. Karena itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Engkau telah memenggal leher rekanmu’.”

Jika pujian tidak menimbulkan dampak seperti ini, maka boleh saja dilakukan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga pernah memuji Abu Bakar, Umar dan lain-lainnya dari kalangan sahabat.

Orang yang dipuji harus mawas diri, jangan sampai terkena bencana takabur dan ujub serta lalai beramal. Tidak ada yang bisa selamat dari bencana ini kecuali orang yang mengenali diri sendiri dan berpikir bahwa jika orang yang memujinya tahu apa yang ada pada dirinya, tentu dia tidak akan memujinya.

Diriwayatkan bahwa ada salah seorang di antara orang-orang yang dikenal shalih dipuji seseorang. Maka dia berkata, “Ya Allah, sesungguhnya dia tidak mengetahui diriku, sedangkan Engkau mengetahui diriku.”

L. Bencana Keduabelas : Kesalahan dalam menjelaskan maksud perkataan yang berkaitan dengan masalah agama, apalagi yang berkaitan dengan Allah

Tidak ada yang bisa meluruskan kesalahan ini kecuali ulama yang lurus. Siapa yang ilmunya masih terbatas, perkataannya tentu bisa terpeleset setiap waktu. Tetapi Allah mengampuninya karena kebodohannya. Misalnya adalah yang diriwayatkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda,

“Janganlah salah seorang di antara kalian berkata, ‘Menurut apa yang dikehendaki Allah dan terserah padamu’. Tapi hendaklah dia berkata, ‘Menurut apa yang dikehendaki Allah, kemudian terserah padamu’.” (Diriwayatkan abu Daud, Ahmad dan Al-Baihaqi).

Sebab dalam ‘kata sambung’ yang mutlak terdapat persekutuan dan penyertaan. Sebagai contoh adalah firman Allah, “Dan siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya.”

Beliau juga bersabda,

“Janganlah salah seorang di antara kalian berkata, ‘Hai hamba laki-laki dan hambaku wanita’. Setiap orang di antara kalian adalah hamba Allah dan setiap wanita kalian adalah hamba Allah yang wanita. Tetapi hendaklah dia berkata, ‘Hai pembantuku laki-laki dan pembantuku wanita’.” (Diriwayatkan Bukhari dan Muslim serta Ahmad).

An-Nakha’i berkata, “Jika seseorang berkata kepada orang lain, “Hai keledai, hai babi!” maka pada Hari Kiamat nanti akan dikatakan kepadanya, “Apakah menurut pendapatmu engkau menciptakannya sebagai keledai atau babi?”

Siapa yang memperhatikan uraian di atas tentang bencana-bencana lidah ini, tentu dia akan tahu bahwa mengumbar perkataan tentu tidak bisa selamat dari bencana tersebut.

Pada saat itulah dia akan mengetahui rahasia sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,

“Siapa yang diam (tidak bicara) selamat.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi, Ahmad, Al-Baghawi dan Ibnul Mubarrak).

Sebab bencana-bencana ini merupakan perusak yang ada di jalan orang yang berbicara. Maka jika diam tentu dia selamat.

Bencana lain yang biasa dilakukan orang awan adalah bertanya tentang sifat-sifat Allah dan kalam-Nya. Ketahuilah bahwa setan itu memberikan image kepada orang awam bahwa dengan keaktifanmu mendalami ilmu, membuat orang menganggapmu termasuk ulama dan orang yang memiliki keutamaan. Selalu saja ada sesuatu yang mereka inginkan, sampai-sampai mereka mengucapkan kata-kata yang kufur, sementara mereka tidak menyadarinya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Begitu cepat manusia bertanya, sampai-sampai mereka berkata, ‘Ini Allah yang menciptakan makhluk. Lalu siapa yang menciptakan Allah?’ ” (Diriwayatkan Abu Dawud dan Ibnu Sunni).

Pertanyaan orang awam tentang sesuatu yang rumit merupakan bencana. Tindakan mereka yang mencari-cari makna sifat-sifat Allah bisa merusak mereka dan sama sekali tidak bermanfaat, Yang seharusnya mereka lakukan adalah beriman kepada apa yang disebutkan dalam Al-Quran kemudian pasrah terhadap apa yang dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan menyibukkan diri dengan ibadah. Kesibukan mereka mencari rahasia-rahasia ilmu. sama dengan penggembala ternak yang mencari rahasia-rahasia kerajaan.

Maraji’: Ibnu Qudamah, Minhajul Qashidin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s