Celaan terhadap Dunia

Ada beberapa ayat yang disebutkan dalam Al-Quran yang mencela dunia, perintah untuk zuhud di dunia dan beberapa perumpamaan tentang dunia. Firman Allah Ta’ala,

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah, ‘Inginkan aku kabarkan kepada kalian apa yang lebih baik dari yang demikian itu?’ ” (Ali Imran : 14-15).

“Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran : 185).

“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit.” (Yunus : 24).

“Ketahuilah bahwa sesunggguhnya kehidupan duniawi itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan.” (Al-Hadid : 20).

“Dan semua itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Rabbmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Az-Zukhruf : 35).

“Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka.” (An-Najm : 29-30).

Dalam “Ash-Shahihain” disebutkan dari riwayat Al-Miswar bin Syaddad, dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda,

“Dunia itu dibanding akhirat tidak lain hanyalah seperti jika seseorang di antara kalian mencelupkan jarinya ke lautan, maka hendaklah dia melihat air yang menempel di jarinya setelah dia menarik kembali.” (Diriwayatkan Muslim, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Dalam hadits lain disebutkan,

“Dunia ini adalah penjaranya orang mukmin dan surganya orang kafir.” (Diriwayatkan Muslim, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

“Andaikan dunia ini di sisi Allah hanya serupa dengan sebelah sayap seekor nyamuk, tentulah Dia tidak akan memberikan dari sebagian dari dunia itu kepada orang kafir barang seteguk air.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi dan Abu Nu’aim).

“Dunia ini terkutuk, terkutuk pula apa yang ada di dalamnya kecuali apa yang dikarenakan Allah darinya.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Baghawi).

Abu Musa meriwayatkan dari Nabu Muhammad SAW beliau bersabda,

“Barangsiapa mencintai dunianya, akan menimbulkan mudharat terhadap akhiratnya, dan barangsiapa mencintai akhiratnya, akan menimbulkan mudharat terhadap dunianya. Maka hendaklah kalian lebih mementingkan yang kekal daripada yang fana.” (Diriwayatkan Ahmad, Al-Hakim, Ibnu Majah dan Al-Baghawi).

Al-Hasan menulis surat yang cukup panjang kepada Umar bin Abdul Aziz berisi celaan terhadap dunia, yang di dalamnya disebutkan:

‘Amma ba’d, sesungguhnya dunia ia merupakan tempat tinggal yang akan binasa dan bukan tempat tinggal yang kekal. Adam diturunkan ke dunia sebagai hukuman. Maka waspadalah terhadap dunia wahai Amirul Mukminin. Mencari bekal di dunia ialah dengan meninggalkannya. Kekayaan dunia adalah kemiskinannya. Orang yang menyanjung-nyanjung dunia akan dihinakan. Orang yang menghimpun dunia akan merasa miskin, tak ubahnya racun yang menggerogotinya, sementara dia tidak mengetahui kalau racun itu membinasakannya. Waspadailah tempat tinggal yang melalaikan, memperdaya dan menipu ini. Terimalah dengan senang hati apa yang ada, waspadailah apa yang belum ada. Kesenangan karena dunia diliputi dengan kesedihan, barisan-barisannya diliputi dengan kotoran. Andaikan Khaliq tidak menyampaikan suatu kabar tentang dunia ini dan tidak memberikan perumpamaan tentangnya, tentulah orang yang tidurpun akan langsung bangkit dan orang yang lalai akan tersadar. Tetapi bagaimana itu akan terjadi, sementara Allah ada ancaman dan peringatan? Dunia ini di sisi Allah sama sekali tidak mempunyai arti apa-apa. Allah tidak melihat kepadanya sejak pertama kali menciptakannya.’

Kunci-kunci dunia dan seluruh simpanannya pernah diperlihatkan kepada Nabi Muhammad SAW, tidak ada yang dikurangi Allah walau hanya senilai sebelah sayap seekor nyamuk. Namun beliau tidak mau menerimanya. Beliau tidak mau mencintai sesuatu yang membuat Allah murka atau meninggikan apa yang dikehendakiNya. Allah telah menyingkirkan dunia ini agar tidak menjadi pilihan bagi orang-orang shalih dan menghamparkannya kepada musuh-musuhNya sebagai sesuatu yang menipu.

Apakah orang yang tertipu mengira bahwa dengan adanya dunia yang ditakdirkan di tangannya itu dia lalu merasa dimuliakan? Rupanya dia lupa terhadap apa yang dilakukan Rasulullah SAW tatkala mengganjal perutnya dengan batu. Padahal tak seorang pun di dunia ini yang pernah mendapatkan tawaran seperti yang ditawarkan kepada beliau dan beliau tidak takut akan dicurangi. Mereka menduga seperti itu karena akalnya yang kurang beres dan lemah pikirannya. Siapa pun yang menduga seperti itu, maka hal ini menunjukkan kekurangan akalnya dan kelemahan pikirannya.

Malik bin Dinar berkata,

“Waspadalah terhadap tukang sihir, karena ia bisa menyihir hati manusia.” Yang dimaksud tukang sihir di sini adalah Dunia.

Tentang perumpanaan dunia, Yunus bin Ubaid berkata,

“Dunia ini diserupakan dengan seseorang yang sedang tidur. Dalam mimpinya dia melihat apa yang dibencinya dan apa yang disukainya. Selagi dia dalam keadaan demikian seperti itu, dia pun terbangun dari tidurnya.”

Dikisahkan bahwa Isa AS pernah melihat dunia ini dalam bentuk seorang wanita tua yang sudah ompong, ditempeli dengan berbagai macam aksesori yang gemerlapan. Beliau bertanya kepadanya,

“Berapa kali engkau menikah?”

“Aku tidak bisa menghitungnya,” jawabnya.

“Apakah sekian banyak suami yang pernah menikah denganmu itu mati atau bercerai denganmu?” tanya Isa AS.

“Mereka semua kubunuh,” jawabnya.

“Kasihan benar calon-calon suamimu berikutnya. Bagaimana mungkin mereka tidak bisa mengambil pelajaran dari suami-suamimu yang terdahulu? Bagaimana mungkin engkau bisa membinasakan mereka satu persatu, dan mereka sama sekali tidak bersikap waspada terhadap dirimu?”

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, dia berkata,

“Dunia ini didatangkan pada Hari Kiamat dalam rupa wanita tua yang sudah ubanan, buta dan taring-taringnya menyembul keluar serta rupanya buruk. Ia muncul di hadapan makhluk. Lalu ada yang bertanya,

“Apakah kalian tahu ini?” Mereka menjawab,

“Kami berlindung kepada Allah, kami tidak mengetahuinya.”

“Ini adalah dunia yang kalian saling berselisih untuk mendapatkannya, saling memutuskan hubungan persaudaraan, saling mendengki, saling membenci dan saling menipu. Lalu dunia itu pun dilemparkan ke neraka. Dunia berseru,

“Wahai Rabbi, manakah orang-orang yang mengikuti dan membuntutiku?”

Allah berfirman,“Pertemukan dengan dunia itu orang-orang yang mengikuti dan membuntutinya.”

Dari Abul Ala’, dia berkata, “Aku pernah bermimpi melihat seorang wanita tua renta yang badannya ditempeli dengan berbagai macam perhiasan. Sementara orang-orang berkerumun di sekelilingnya dalam keadaan terpesona, memandang ke arahnya.

Aku bertanya, “Siapakah engkau ini?”

Wanita tua itu menjawab, “Apakah engkau tidak mengenalku?”

“Tidak,” jawabku,

“Aku adalah dunia,” jawabnya.

“Aku berlindung kepada Allah dari kejahatanmu,” kataku.

Dia berkata, “Kalau memang engkau ingin berlindung dari kejahatanku, maka bencilah dirham (uang).”

Sebagian yang lain berkata, “Aku pernah bermimpi melihat dunia ini dalam rupa seorang wanita tua yang buruk rupanya dan lusuh.”

Inilah perumpamaan lain tentang kehidupan dunia, bahwa keadaan ada tiga macam:

  1. Suatu keadaan dirimu belum ada wujudnya sama sekali, yang di kemudian hari keadaan itu pun ada.
  2. Keadaan antara menjelang detik-detik kematianmu hingga tiada yang lagi tersisa dari kehidupan yang fana ini. Pada saat ini jiwamu memiliki eksistensi setelah ia lepas dari badanmu, bisa di surga dan bisa di neraka. Ini merupakan kehidupan yang abadi.
  3. Keadaan antara yang pertama dan kedua atau keadaan pertengahan, yaitu saat-saat kehidupanmu di dunia. Lihatlah jangka waktu ini, bandingkan dengan saat-saat keadaan yang pertama dan kedua, niscaya engkau akan tahu betapa pendeknya keadaan yang ketiga ini, tak lebih dari sekilas pandangan jika dibandingkan dengan umur dunia.
Siapa yang melihat dunia dengan mata seperti ini, tentu dia tidak mau condong kepada dunia, tidak peduli hari-hari yang dilaluinya dalam kesempitan dan bahaya, ataukah dalam kelapangan dan kesenangan. Karena itu Rasulullah SAW tidak peduli nilai satu batu bata pun atau sepotong kayu pun.
Beliau bersabda,
“apa urusanku dengan dunia? Perumpamaanku dan perumpamaan dunia itu laksana seorang pengembara”. Beliau melanjutkan sabdanya, “Di bawah sebatang pohon, kemudian dia beristirahat sejenak, dan meninggalkan pohon itu.” (Riwayat At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Al-Hakim dan Al-Baghawi).
Isa AS pernah bersabda,
“Dunia ini laksana jembatan. Sebrangilah jembatan itu dan janganlah kalian memakmurkannya.”
Ini perumpamaan yang sangat gamblang, bahwa dunia adalah jembatan yang menghantarkan ke akhirat. Ayunan pada masa bayi merupakan tiang pancang pertama dari jembatan ini, dan liang lahat merupakan tiang pancang terakhir di jembatan ini. Di antara manusia ada yang memotong separuh jembatan itu, sebagian yang lain ada yang memotong sepertiganya, sebagian lain ada yang tinggal selangkah lagi menyelesaikan penyebrangannya, tapi dia lalai.
Apapun yang terjadi setiap orang harus menyebrangi jembatan ini. Siapa yang berhenti, membangun dan memasanginya dengan berbagai macam perhiasan, padahal ia sudah diperintahkan untuk menyebranginya, berarti dia orang yang bodoh.
Ada yang mengatakan,
“Siapa yang mencari dunia, maka dia seperti orang yang meminum air lautan. Setiap kali dia minum lagi, saat itu pula dia merasa haus hingga dia mati karena terus meminumnya.”
Di antara orang salaf berkata kepada teman-temannya,
“Pergilah kalian hingga dunia diperlihatkan kepada kalian.” Lalu bersama mereka dia beranjak menghampiri tempat pembuangan sampah, lalu dia berkata lagi, “Lihatlah gambaran buah-buahan, ternak, madu dan minyak samin yang dimiliki manusia dalam tumpukan sampah ini.”
Perumpamaan lain tentang dunia, telah diriwayatkan dari Al-Hasan, dia berkata,
“Aku pernah mendengar dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Sesungguhnya perumpamaan diriku dan diri kalian, dan perumpamaan dunia, seperti golongan orang yang mengarungi padang pasir yang tandus lagi berdebu. Selagi mereka belum tahu masih berapa jauh sisa perjalanan yang harus ditempuh, mereka pun menghabiskan bekal dan hanya penyesalan yang menyisa. Sementara mereka masih berada di tengah-tengah padang pasir yang tandus, tanpa ada bekal dan tanpa ada kendaraan yang mengangkut mereka. Mereka pun yakin akan mati di tempat itu. Selagi mereka dalam keadaan seperti itu, dari kejauhan terlihat seorang laki-laki yang rambutnya masih menitikkan tetes-tetes air. Mereka berkata, “Ternyata orang itu baru saja dari tempat yang subur.” Setelah orang itu dekat dengan mereka, dia bertanya, “Ada apa kalian ini?”
“Seperti yang engkau lihat,” jawab mereka.
“Apa pendapat kalian jika aku menunjukkan air yang melimpah dan lembah yang subur kepada kalian, apa yang akan kalian lakukan?”
“Kami tidak akan mendurhakaimu dalam satu urusan pun,” jawab mereka.
“Kalau begitu kalian harus berjanji dan bersumpah atas nama Allah.”
Maka mereka pun berjanji dan bersumpah atas nama Allah untuk tidak mendurhakai orang itu dalam satu urusan pun. Maka orang itu pun menunjukkan air yang melimpah dan lembah yang hijau dan subur. Mereka menetap di sana selama masa yang dikehendaki Allah, kemudian orang itu berkata, “Sekarang marilah kita pergi.”
“Kemana?” tanya mereka.
“Menuju air yang tidak seperti air kalian ini, ke lembah yang tidak seperti lembah kalian ini.”
Mayoritas di antara mereka berkata, “Demi Allah, kami tidak mendapatkan tempat yang seperti ini. Karena itu kami mengira tidak ada tempat lain yang seperti ini. Apa yang akan kita perbuat dengan kehidupan yang lebih baik dari saat ini?”
Hanya sedikit saja di antara mereka yang berkata, “Bukankah kalian sudah berjanji dan bersumpah atas nama Allah untuk tidak mendurhakai orang ini? Dia telah percaya kepada kalian pada awal pernyataan, maka demi Allah, hendaklah kalian juga percaya kepadanya pada akhir pernyataannya.”
Kelompok yang terakhir inilah yang ikut orang tersebut dan sisanya tetap berada di tempat yang subur itu. Tak lama kemudian mereka diserbu musuh. Sebagian ada yang menjadi tawanan dan sebagian lain ada yang mati terbunuh.” (Diriwayatkan Ibnul Mubarrak).
Di dalam Ash-Shahihain disebutkan dari hadits Abu Musa RA, dia berkata,
“Rasulullah bersabda, “Perumpamaanku dan perumpamaan apa yang karenanya aku diutus Allah, ialah seperti seorang laki-laki yang mendatangi kaumnya, seraya berkata, ‘Wahai kaumku, sesungguhnya aku melihat musuh di seberang sana dengan mata kepalaku sendiri. Sementara aku hanya bisa memberi peringatan. Maka carilah selamat!’ sekelompok orang dari kaumnya menaati orang itu.
Pada malam itu pula mereka langsung pergi sehingga bisa selamat. Sedangkan sekelompok lainnya tetap berada di tempat mereka, membunuhi dan menawan mereka.
Begitulah perumpamaan orang yang menaatiku dan mengikuti apa yang kubawa, dan perumpamaan orang yang mendurhakaiku dan mendustakan apa yang kubawa, berupa kebenaran.” (Diriwayatkan Bukhari dan Muslim).
Maraji’ : Ibnu Qudamah, Minhajul Qashidin (Orang-orang yang Mendapat Petunjuk)
Advertisements

One comment on “Celaan terhadap Dunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s