sirsak

Sirsak, Dahsyat Lawan Kanker


 Sejak lama kita mengenal sirsak. Tapi sudahkah mengenal manfaat kesehatannya ? Ternyata dahsyat!

Sirsak (Annona muricata) telah lama dikenal sebagai tanaman berkhasiat. Penggunaannya dalam pengobatan herbal cukup populer di berbagai negara dunia. Ambil contoh, selama berabad-abad bangsa Indian di Amerika Selatan memanfaatkan buah berjuluk nangka Belanda ini dalam mengobati penyakit jantung, asma, hati, dan rematik. Bangsa Peru membuat teh daun sirsak untuk mengobati flu dan infeksi saluran pernapasan.

Beberapa negara lain juga menggunakan buah maupun daun sirsak dalam menangani beragam penyakit. Sebagi obat luar, campuran minyak zaitun dan daun atau buah sirsak dapat digunakan untuk mengatasi nyeri saraf (neuralgia), rematik dan arthritis.

Indonesia pun tak terkecuali. Dalam pengobatan tradisional, sirsak telah lama digunakan sebagai obat bisul, diare, mual, hepatitis, batuk, rematik dan hipertensi. Bahkan menurut nenek moyang Jawa, sirsak dikenal dengan nama sirsat. Dalam bahasa Jawa ‘sir’ berarti rasa, yang dapat dianalogikan sebagai rasa sakit. Sedangkan ‘sat’ berarti habis, hilang atau sembuh. Jadi, sirsak dapat diartikan sebagai penghilang rasa sakit.

Anti Kanker

Beragam khasiat sirsak terhadap penyakit memang telah teruji. Dan yang paling menggembirakan adalah kemampuan tanaman asli Amerika Tropis ini dalam mengatasi kanker. Dalam bukunya, Dahsyatnya Sirsak Tumpas Penyakit, Dr.Adji Suranto, Sp.A., menyebutkan, kemampuan sirsak dalam mengatasi kanker memiliki keunggulan dibandingkan herbal lainnya.

Khasiat sirsak yang sati ini sebenarnya sudah ditemukan melalui hasil penelitian The National Cancer Institute, Amerika Serikat 1976. Namun hal ini tampaknya ditutup rapat-rapat sampai terbuka kembali ke khalayak global pada 2009. Di Indonesia sendiri, penelitian mengenai khasiat sirsak dilakukan entomolog dari Departemen Biologi ITB, Prof.Soelaksono Sastrodiharjo dengan Dr.Jerry McLaughlin, farmakolog dari Universitas Purdue Amerika Serikat pada 1995-1996.

Keseluruhan riset mengenai khasiat sirsak dalam mengatasi kanker ini membuahkan satu kesimpulan, kandungan senyawa annonanceous acetoginin dalam daun, kulit kayu dan buah sirsak dapat membantu melawan 12 jenis sel kanker. “Paling banyak terkandung di daun. Sejauh ini ada 12 jenis sel kanker yang efektif (dilawan),” ungkap Dr.Adji.

Cara kerja senyawa inilah yang dapat dikatakan istimewa dan menjadi keunggulan sirsak dibandingkan tanaman herbal lainnya. “Dia memblok ATP (adenosin trifosat) yang digunakan sebagai sumber energi baik oleh sel kanker maupun sel normal. Sel kanker ini kan sifatnya cepat membelah, jadi kalau suplai energinya dihentikan, dia akan mati. Dan dia (annonaceous acetoginin) tidak akan menghancurkan sel lain,” terang dokter spesialis anak ini.

Bukti tersebut pun diperkuat oleh penemuan penting dari Universitas Katolik, Korea Selatan, yaitu sirsak dapat menyeleksi dan membunuh sel kanker tanpa mengganggu ataupun merusak sel sehat. “Berbeda dengan kemoterapi. Kalau kemoterapi semua sel, yang sehat juga hancur. Karena itu sesudah kemoterapi biasanya sumsum tulangnya terdepresi. HB (hemoglobin)-nya turun, trombositnya juga, dan sebagainya.” tambah Dr.Adjie menjelaskan.

Dalam bukunya, dokter kelahiran Cilacap ini pun menyebutkan, sirsak memiliki kemampuan 10.000 kali lebih kuat dalam membunuh sel kanker dibandingkan adriamisin, obat yang sering digunakan untuk kemoterapi.

Pasien kanker yang memilih menggunakan terapi sirsak cenderung terhindar dari efek samping berlebihan seperti halnya kemoterapi. Dalam melawan kanker, sirsak tidak menimbulkan efek mual yang berlebihan, bobot badan turun, ataupun kerontokan rambut. Tambahan lagi, sirsak melindungi sistem imun tubuh, menambah energi, bahkan turut memperbaiki kondisi fisik.

Di Bawah Pengawasan

Terbukti dapat mengatasi kanker, bukan berarti pasien dapat melepas peran dokter ataupun pengobatan konvesional sama sekali. Justru saran dan pendampingan dari ahlinya sangat diperlukan. “Nggak bisa orang awam tiba-tiba baca (kalau sirsak dapat mengatasi kanker), lalu mengobati sendiri. Perlu konsultasilah. Ini kombinasinya apa, nanti juga kan hasilnya perlu dievaluasi,” cetus Dr.Adjie yang lulusan Fakultas kedokteran Universitas Indonesia 1988 ini.

Konsultasi pun diperlukan terkait adanya efek samping dalam konsumsi sirsak. Misalnya bagi para penderita jantung, konsumsi sirsak dalam jumlah berlebih dapat bersifat menekan aktivitas jantung. Demikian juga bagi wanita hamil. Asupan banyak sirsak dapat merangsang terjadinya kontraksi rahim.

Daun sirsak adalah bagian tanaman yang paling banyak ditemukan dalam terapi pengobatan kanker. Di pasaran, bentuk kering (simplisia) daun sirsak bahkan ekstrak dalam kapsul sudah tersedia. Selain itu, bentuk kering kulit kayu sirsak hingga jus buah sirsak pun dianjurkan dalam terapi. Namun sekali lagi, penggunaan dan pemilihan pengobatan pun harus dilakukan secara terkontrol.

Untuk pengobatan kan perlu detil. Kalau kanker kita lihat dulu dia (pasien) stadium berapa, apakah satu, dua, tiga atau empat. Lalu jenisnya apa, kondisi fisik pasien bagaimana, lalu ada tidak komplikasi penyakit-penyakit lain, Baru setelah itu kita pilihkan (pengobatannya),” tutur dokter yang tertarik pada tanaman obat sejak tahun 2000 itu.

Pengobatan herbal ini pun, lanjut dia, bisa bersamaan dengan konvensional bila sifatnya melengkapi. Namun kalau mau dikombinasikan, harus hati-hati. Sekretaris II Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Indonesia Pengembang Kesehatan Tradisional Indonesia (PDPKT) ini menyarankan, konsumsi sirsak juga sebaiknya diberi jeda untuk menghindari penggunaan berlebihan dan efek samping. Evaluasi perkembangan kesembuhan pasien perlu dilakukan sekitar sebulan sekali.

Efektivitas pengobatan sangat bergantung kondisi pasien. Kesembuhan pun tak terlepas dari respon pasien terhadap pengobatan, kedisiplinan pasien, penggunaan obat-obat lain bersamaan dengan terapi sirsak, hingga kondisi psikologis pasien.  “Penyembuhan itu dari berbagai aspek, emosi, atau tingkat stres juga berpengaruh. Itu juga perlu dijaga.” tutup Dr.Adjie.

Sumber : Tabloid Agrina, vol.7 Juni 2011